WHO Cabut Darurat Covid, Epidemiolog Titip Pesan ke Warga RI

WHO Akhiri Pandemi Covid-19

Badan Kesehatan Dunia (WHO) resmi mencabut status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau status kedaruratan Covid-19 pada Jumat (5/5).

Namun, Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menegaskan bahwa pencabutan PHEIC dengan status Covid sebagai pandemi itu kedua hal yang berbeda.

Perlu diingatkan bahwa ancaman Covid-19 masih ada dan nyata. Terutama ancaman dampak Covid-19 jangka menengah hingga jangka panjang (long covid).

“Covid ini masih ada, kelompok varian under monitoring itu ada tujuh semua dari kelompok XBB. 1 dari 7 itu sekarang┬ánaik tingkat, XBB 1.16 itu variant of interest,” kata Dicky dalam Profit di CNBC Indonesia, Senin (8/5/2023).

Lebih lanjut Dicky menjelaskan, keputusan WHO untuk mencabut PHEIC berdasarkan 3 kriteria yang dinilai sudah tidak relevan lagi. Tiga kriteria ini adalah, pertama, penyakit yang ada sudah melewati masa darurat

“Ditandai dengan secara global dan nasional kasus kematian, keparahan orang masuk ICU dan beban di fasilitas kesehatan tren sudah menurun,” tuturnya.

Kemudian, penyakit yang mewabah secara global menembus batas wilayah negara memang masih ada, tapi dalam level yang bisa dikendalikan dan mayoritas tidak bergejala.

Ketiga sejak pandemi Covid-19, muncul pendanaan atau funding, seperti lahirnya Covax Facility dan sebagainya. Dari ketiga kriteria ini WHO, berdasarkan masukan dari para ahli, memandang semuanya sudah tidak relevan lagi.

“Kriteria kenapa ini ditetapkan perlu kerja sama global untuk menangani wabah raya ini,” ujar dia.

“Tapi sekali lagi ini berbeda dengan status covid itu sendiri masih ada, bahkan menjadi masalah di beberapa wilayah. Jadi ini hal yang harus dibedakan.” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*