Saling Tuding Biang Kerok Polusi & Solusi Instannya

Saling Tuding Biang Kerok Polusi & Solusi Instannya

Polusi udara Jakarta akibat kemacetan, (CNBC Indonesia/Faisal Rahmani)

Pemerintah dan para ahli belum satu suara terkait dengan masalah polusi udara khususnya DKI Jakarta dan sekitarnya. Saling tuding penyebab dari buruknya kualitas udara di Jakarta pun beraneka ragam.

Beberapa pihak meyakini polusi udara di Jakarta disebabkan oleh beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara. Sementara, pihaknya lainnya menuding sektor transportasi menjadi biang kerok dari permasalahan ini sendiri.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), https://totokas138.monster/ Bahlil Lahadalia salah satunya, ia meyakini memburuknya kualitas udara di Jakarta dipicu oleh keberadaan PLTU Batu Bara.

“Sekarang di Jakarta salah satu polusi udara terjelek di dunia karena PLTU batu bara kita,” tegas Bahlil dalam Penutupan Orientasi Diponegoro Muda di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, seperti dilansir CNNIndonesia, dikutip Jumat (25/8/2023).

Selain PLTU batu bara, Bahlil juga menyebut bahwa sektor transportasi turut menyumbang sekian persen dari total emisi di Jakarta. Karena itu, dia mendorong agar semua pihak mulai beralih menggunakan kendaraan listrik.

“Ke depan, semua orang pakai mobil listrik. Oleh karena itu, mobil baterai listrik dan Indonesia kita dorong sebagai salah satu negara produsen ekosistem baterai (dan) mobil (listrik) terbesar di dunia,” tutupnya.

Di sisi lain, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membantah informasi yang mengatakan PLTU di Banten menjadi penyebab utama polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

Menurut dia, grafis yang menunjukkan asap PLTU Banten mengarah ke Jakarta hanya simulasi. Apalagi sampai Oktober 2023 nanti, arah mata angin mengarah ke Selat Sunda. “Jadi, PLTU Banten arahnya ke Selat Sunda, bukan arah Jakarta,” katanya usai mengikuti Rapat Koordinasi Permasalahan Pencemaran Udara di Jabodetabek baru-baru ini.

Sementara, berdasarkan bahan laporan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, terkait peningkatan kualitas udara Jabodetabek, yang disampaikan pada Rapat Terbatas Kabinet di Istana Negara, Jakarta Senin (14/8/2023), sektor transportasi merupakan pengguna bahan bakar paling besar di Jakarta.

Data tersebut menunjukkan, sektor transportasi berkontribusi sebesar 44% dari penggunaan bahan bakar di Jakarta, diikuti industri energi 31%, lalu manufaktur industri 10%, sektor perumahan 14%, dan komersial 1%.

Adapun dari sisi penghasil emisi karbon monoksida (CO), disebutkan bahwa sektor transportasi menyumbang sebesar 96,36% atau 28.317 ton per tahun, disusul pembangkit listrik 1,76% 5.252 ton per tahun dan industri 1,25% mencapai 3.738 ton per tahun.

Apabila ditengok dari jenis kendaraan, sepeda motor menghasilkan beban pencemaran per penumpang paling tinggi dibanding mobil pribadi bensin, mobil pribadi solar, mobil penumpang, dan bus. Ini dengan asumsi populasi mencapai 78% dari total kendaraan bermotor di DKI Jakarta sebanyak 24,5 juta kendaraan, dengan pertumbuhan 1.046.837 sepeda motor per tahun.

Namun dari sisi penghasil emisi Sulfur Dioksida (SO2), sektor industri manufaktur menjadi kontributor utama penghasil emisi SO2 yakni sebesar 2.631 ton per tahun atau sebesar 61,9%.

Sedangkan posisi kedua penghasil emisi SO2 terbesar ditempati industri energi yaitu 1.071 ton per tahun atau sebesar 25,17%. Sedangkan kendaraan bermotor hanya 11% sebesar 493 ton per tahun. “Penyebab utama tingginya emisi Sulfur Dioksida di Industri Manufaktur disebabkan penggunaan batu bara yang menghasilkan emisi SO2 sebesar 64%,” tulis laporan itu.

Laporan itu juga menepis kabar bahwa dugaan polusi udara karena PLTU di Suralaya yang berdiri di Cilegon, Provinsi Banten, karena pergerakan angin yang tidak mengarah ke Jakarta. “Bahwa dugaan polusi udara karena PLTU Suralaya tidak tepat sebab hasil analisis pemantauan tahun 2019 menunjukkan bahwa pergerakan pencemaran ke Selat Sunda bukan ke Jakarta,” tulis pada laporan itu.

 

Lalu bagaimana solusinya?

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana melakukan tilang uji emisi kendaraan mulai 1 September 2023 mendatang. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya penanganan polusi udara di ibu kota.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan mulai September 2023 hingga tiga bulan ke depan pihaknya akan melakukan razia tilang uji emisi. “Kami akan melakukan razia uji emisi bekerja sama dengan Polda Metro Jaya, Polisi Militer (POM) TNI, serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP),” kata Asep dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) bertajuk “Penanganan Polusi Udara” yang digelar secara daring, Kamis (24/8/2023).

Selain itu, Pemprov DKI juga akan melakukan pengenaan tarif parkir tertinggi di 11 lokasi parkir milik Pemprov. “Jadi untuk lahan-lahan parkir, kami akan mengenakan tarif parkir tertinggi. Itu sudah berlaku sebenarnya, yang biasanya Rp 5.000 per jam, ditambah yang tidak lulus uji emisi itu bisa mencapai Rp 7.500 per jam,” paparnya.

Asep mengatakan pihaknya tidak pernah berhenti mengimbau masyarakat untuk selalu mengecek kualitas udara melalui aplikasi JAKI, website resmi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) maupun websitebmkg.go.id.

Langkah ini sebagai upaya menumbuhkan persoalan polusi udara juga menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya diserahkan ke pemerintah daerah. “Kami misalnya mengharapkan masyarakat dapat mengurangi emisi yang dihasilkan itu dengan menggunakan transportasi publik, tidak bakar sampah. Kemudian rutin uji emisi kendaraannya dan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan. Serta yang tidak kalah penting adalah memproteksi diri dengan menggunakan masker,” ujarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data IQAir pada pagi hari ini Jumat (25/8/2023) pukul 06.00 WIB, kualitas udara di Jakarta kembali ke status tidak sehat dengan indeks kualitas udara AQI US 155 dan polutan utama PM2.5. Konsentrasi PM2.5 di Jakarta saat ini 12.8 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

Angka ini lebih menurun dibandingkan AQI US hari sebelumnya dimana AQI US berada di angka 162. Cuaca Jakarta pagi ini masih berkabut dengan suhu 24 derajat celcius, kelembaban 94%, angin 7,4 hm/h dan tekanan 1.011 mbar.

Dalam rangking kota AQI langsung dari beberapa kota di Indonesia, hari ini pukul 06.00 WIB Jakarta sudah tidak masuk dalam 10 rangking kualitas udara yang tidak sehat. Kota Tangerang pagi ini menjadi kota berpolusi tinggi dengan AQI US 192.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*