Breaking News: Rupiah Jeblok, Dekati Rp 15.000/US$

Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Sentimen pelaku pasar yang memburuk merespon perkembangan perundingan batas utang Amerika Serikat (AS) membuat rupiah melemah pada awal perdagangan Kamis (25/5/2023), hingga mendekati level psikologis Rp 15.000/US$.

Melansir data Refinitiv, begitu perdagangan dibuka rupiah langsung jeblok 0,37% ke Rp 14.950/US$.

Memburuknya sentimen pelaku pasar terlihat dari rontoknya bursa saham Eropa dan AS (Wall Street) pada perdagangan Rabu waktu setempat dan merembet ke Asia Pasifik pagi ini.

Ketua DPR AS, Kevin McCarthy mengatakan negosiasi pengurangan belanja pemerintah masih buntu.

“Saya berpikir ini (pengurangan belanja) masuk akal. Masuk akal dan rasional jika kita mengurangi belanja pada https://rtpdwslot88.org/ tahun depan dibandingkan tahun ini. Setiap rumah tangga harus melakukan hal yang sama,” kata McCarthy, yang berasal dari Partai Republik sebagaimana dilansir CNBC International.

Sementara itu rilis notula rapat kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) dini hari tadi menunjukkan para pembuat kebijakan terbelah terkait kenaikan suku bunga. Beberapa anggota melihat perlu untuk menaikkan suku bunga lagi, tetapi yang lainnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat dan tidak perlu lagi mengetatkan kebijakan moneter.

Rilis risalah tersebut membuka peluang lebih besar The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada bulan depan. Apalagi, ketua The Fed, Jerome Powell yang berbicara pada Jumat pekan lalu juga mengatakan suku bunga tidak akan setinggi perkiraan pasar.

“Kebijakan stabilitas keuangan membantu menenangkan kondisi perbankan. Di sisi lain, perkembangan sektor perbankan berkotribusi pada kondisi kredit yang lebih ketat dan cenderung membebani pertumbuhan ekonomi, perekrutan tenaga kerja dan inflasi,” kata Powell sebagaimana dikutipĀ CNBC International, Jumat (19/5/2023).

“Hasilnya, suku bunga kemungkinan tidak perlu naik setinggi yang seharusnya dilakukan untuk mencapai target kami,” tambah Powell.

Selain itu pelaku pasar juga menunggu pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Dari 12 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus, semuanya memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuannya sebesar 5,75%.

Meski demikian, pelaku pasar tentunya menanti update terkait kondisi ekonomi luar dan dalam negeri menurut pandangan BI, serta proyeksi suku bunga ke depannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*