Bapak AI Sebut ChatGPT Lebih Bahaya dari ‘Kiamat’

Ilmuwan komputer Geoffrey Hinton, yang mempelajari jaringan saraf yang digunakan dalam aplikasi kecerdasan buatan, berpose di kantor pusat Google Mountain View, California, Rabu, 25 Maret 2015. (File Foto - AP Photo/Noah Berger)

Teknologi kecerdasan buatan (AI) lebih membahayakan peradaban manusia ketimbang ‘kiamat’ pemanasan global. Hal tersebut diungkap Bapak AI atau kerap dipanggil ‘Godfather of AI’, Geoffrey Hinton.

Baru-baru ini, Hinton mengundurkan diri dari Google setelah satu dekade mengembangkan produk AI di raksasa teknologi tersebut. Ia mengatakan ingin lebih banyak berbicara soal ancaman AI tanpa khawatir akan dampaknya ke Google.

Segera setelah hengkang dari Google, ia banyak diwawancara untuk membahas masa depan AI. Menurut dia, teknologi tersebut memiliki banyak risiko.

“Saya tak bermaksud mengatakan bahwa perubahan iklim tak berbahaya. Tentu saja fenomena itu adalah masalah yang krusial. Namun, menurut saya AI pada akhirnya menjadi masalah yang lebih mendesak,” kata dia, dikutip dari Reuters, Senin (8/5/2023).

Lebih lanjut, ia mengatakan perubahan iklim memiliki indikator solusi yang jelas. Penyebabnya adalah emisi karbon, sehingga manusia harus mengurangi produksi CO2.

“Untuk AI, tak ada kejelasan seperti itu. Anda tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mencegah risikonya,” ia menuturkan.

Meski sadar akan bahaya AI, Hinton tak setuju dengan gerakan Elon Musk Cs untuk menangguhkan penelitian soal teknologi canggih tersebut. Menurut dia, langkah itu tak realistis.

“Yang harus dilakukan adalah mengerahkan banyak sumber daya untuk mencari tahu apa yang bisa kita lakukan,” kata dia.

Pekan lalu, Presiden AS Joe Biden memanggil beberapa raksasa teknologi yang mengembangkan AI untuk memberikan arahan soal pengembangan produk mereka. Biden meminta produk AI harus transparan dan dibangun dengan tanggung jawab moral untuk keamanan publik.

“Bos teknologi memahami sistem kerja AI. Pemerintah juga harus terlibat dalam pengembangannya. Teknologi ini mempengaruhi kita semua, jadi kita harus sama-sama memikirkannya,” ia memungkasi.

AI menjadi pembahasan di mana-mana setelah ChatGPT hadir dan menggemparkan industri teknologi pada akhir 2022 lalu. Padahal, AI sudah lumayan lama dikembangkan.

Hinton adalah salah satu orang yang paling lama mendedikasikan diri terhadap pengembangan teknologi AI. Sebelum bekerja di Google, ia mulai mendalami neural networks yang merupakan cikal bakal AI dan deep learning pada 1972, sebagai mahasiswa di University of Edinburgh.

Pada 1980, ia menjadi profesor di Carnegie Mellon University. Hinton sempat ditawarkan duit dari AS dan Pentagon untuk penelitiannya.

Namun, ia lebih memilih melakukan penelitiannya dengan pendanaan dari Kanada. Ia mengatakan sangat menghindari penggunaan AI untuk senjata.

Selanjutnya, pada 2012, Hinton dan 2 mahasiswanya menciptakan neural networks yang bisa mengidentifikasi ribuan foto dan mempelajari pola objek-objek di dalamnya. Salah satu mahasiswanya adalah Ilya Sutskever yang menjabat Chief Scientist OpenAI sejak 2018. OpenAI adalah perusahaan yang mengembangkan ChatGPT.

Google kemudian membeli perusahaan rintisan Hinton senilai US$ 44 juta. Sejak saat itu, Hinton menghabiskan lebih dari 1 dekade untuk menyempurnakan produk AI Google hingga akhirnya memutuskan berhenti baru-baru ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*